Bangka Belitung – Direktur CV Timah Inti Nusa (CV TIN) yang akrab disapa Cepot memberikan klarifikasi terkait isu dugaan kehilangan timah sekitar 9 kilogram yang disebut terjadi di Pos Jelitik dan sempat dikaitkan dengan dirinya.
Dalam keterangannya, Cepot membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan tidak memiliki alasan untuk mengambil hak pihak lain dan menyatakan selama berkecimpung di dunia pertimahan selama kurang lebih 15 tahun, dirinya tidak pernah melakukan tindakan yang merugikan pihak lain.
”Saya tidak pernah mengambil hak orang lain. Selama hampir 15 tahun di dunia pertimahan, silahkan cari siapa yang pernah saya tipu atau saya rugikan,” ujar cepot. Minggu (14/06/26).
Cepot juga menyinggung kegiatan sosial yang dilakukannya. Menurut dia, pada Jumat (12/7), dirinya membagikan ratusan paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Paket tersebut berisi beras, minyak goreng, kopi, gula, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Ia menjelaskan bahwa tuduhan yang mengarah kepadanya terkait dugaan kehilangan timah dinilai tidak masuk akal. Menurutnya, lokasi penyimpanan timah di Pos Jelitik berada dalam pengawasan dan penjagaan yang ketat.
”Kalau memang ada yang ingin mengambil timah, mengapa harus dilakukan di tempat yang dijaga dan diawasi selama 24 jam oleh pihak keamanan,” katanya.
Terkait dugaan selisih berat timah sekitar 9 kilogram, Cepot menilai kemungkinan terdapat faktor teknis yang perlu diperhatikan. Ia menjelaskan bahwa saat timah ditampung dalam tong penyimpanan, material yang berasal dari ponton umumnya masih dalam kondisi basah dan mengandung kadar air cukup tinggi.
Menurut dia, ketika dilakukan penimbangan ulang, berkurangnya kandungan air yang sebelumnya berada di dalam tong dapat memengaruhi hasil akhir penimbangan.
“Jumlah karung saat dihitung kembali dinyatakan lengkap dan tidak ada yang kurang. Kemungkinan selisih berat tersebut disebabkan oleh berkurangnya kadar air yang sebelumnya terdapat di dalam tong penyimpanan,” ujarnya.
Cepot juga menyatakan bahwa pada malam kejadian telah dilakukan pertemuan antara pihak terkait yang disaksikan sejumlah saksi. Dalam pertemuan tersebut dilakukan penghitungan ulang jumlah karung dan penimbangan kembali material yang ada.
Ia mengklaim hasil pemeriksaan menunjukkan jumlah karung sesuai dan tidak ditemukan kejanggalan pada jumlah fisik karung yang ditimbang ulang.
Meski demikian, Cepot menyatakan siap bertanggung jawab apabila di kemudian hari terbukti terdapat keterlibatan dirinya dalam permasalahan tersebut.
”Saya siap mempertanggungjawabkan jika memang terbukti bersalah. Saya yakin kebenaran pada akhirnya akan terungkap,” katanya.
Selain klarifikasi dari Cepot, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bangka, Lukman, turut memberikan pandangannya terkait persoalan yang berkembang di Pos Jelitik tersebut.
Menurut Lukman, berdasarkan informasi dan fakta yang diketahuinya sejauh ini, dirinya tidak melihat adanya indikasi pencurian sebagaimana yang sempat dituduhkan.
“Sepengetahuan saya, persoalan ini bukanlah kasus pencurian. Dari informasi yang saya peroleh, jumlah karung yang dihitung kembali tetap sesuai dan tidak ditemukan kekurangan secara fisik. Karena itu, saya berharap semua pihak dapat menahan diri dan menunggu fakta yang sebenarnya terungkap,” kata Lukman.
Ia juga mengimbau agar persoalan tersebut diselesaikan secara objektif dan mengedepankan data serta fakta di lapangan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun kegaduhan di tengah masyarakat.
Meski demikian, Lukman menyerahkan sepenuhnya proses klarifikasi dan penelusuran kepada pihak-pihak yang berwenang untuk memastikan penyebab terjadinya selisih berat timah yang dipersoalkan tersebut.
Sementara itu, informasi mengenai dugaan pencampuran material berkadar rendah (tailing) yang sempat mencuat dalam isu tersebut masih dalam proses penelusuran. Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi yang dapat memastikan kebenaran tuduhan tersebut.
Redaksi juga masih berupaya memperoleh konfirmasi dan keterangan dari pihak-pihak terkait, termasuk pengawas lapangan, pihak perusahaan yang terlibat, serta pihak lain yang mengetahui peristiwa tersebut, guna mendapatkan informasi yang berimbang sesuai prinsip jurnalistik.
(TIM)














